bLoGGiNg 4 LeaRNiNg

— Sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain —

Sutan Syahrir

Posted by treest on 7 March 2009

Beberapa surat kabar menamakan Sutan Syahrir sebagai “The Smiling Diplomat“. Julukan itu sangat populer di kalangan para jurnalis, terutama yang meliput sidang-sidang PBB, yaitu para wartawan yang berada di Indonesia semasa revolusi.

Tak salah, Syahrir memang terkenal sebagai salah satu perintis kemerdekaan melalui jalur diplomasi. Gebrakan pertama Syahrir dimulai pada 14 Agustus 1947 saat berpidato di muka sidang Dewan Keamanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara yang lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial.


Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan oleh wakil Belanda, Van Kleffens. Berkat diplomasi Syahrir itu, akhirnya Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional.

Itulah satu di antara prestasi besar Pahlawan Nasional yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia pertama dalam tiga kabinet yang berbeda, sekaligus merangkap Menteri Dalam dan Luar Negeri (1945-1947). Sutan Syahrir merupakan perdana menteri termuda di dunia ketika pertama kali menjadi perdana menteri.


3 serangkai
Peringatan 100 tahun mantan Perdana Menteri (PM) Republik Indonesia “Sutan Sjahrir”, yang jatuh pada 5 Maret 2009 tentunya akan selalu banyak dikenang bangsa Indonesia. Diwarnai dengan banyak kegiatan-kegiatan sebagai pelepas rindu dan nostalgia bangsa.

Sutan Syahrir (SOETAN SJAHRIR), lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 5 Maret 1909. Sjahrir lahir sebagai anak satu-satunya dari pasangan Mohammad Rasad yang bergelar Maharaja Soetan bin Soetan Leman gelar Soetan Palindih, berasal dari Koto Gadang, Bukit Tinggi. Ayah Syahrir adalah penasihat Sultan Deli dan ibunya Puti Siti Rabiah berasal dari Natal, Tapanuli, Sumatera Utara.

Suami dari Maria Duchateau dan Siti Wahyunah ini menyelesaikan pendidikan SD dan SMP (MULO) di Medan pada 1926. Sejak remaja, ia sudah menggemari berbagai buku-buku asing dan novel Belanda. Beliau juga menyenangi seni, dimana kadangkala ia juga pernah mengamen di Hotel de Boer, hotel khusus untuk tamu-tamu kulit putih ketika itu.

Setamat dari MULO, Syahrir masuk sekolah lanjutan atas (AMS) di Bandung. Di sekolah itu, dia bergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis skenario, dan juga aktor. Setiap hasil pementasan dia gunakan untuk membiayai sekolah yang ia dirikan, Tjahja Volksuniversiteit atau Cahaya Universitas Rakyat.

Syahrir memang dikenal akan jiwa sosialnya yang tinggi. Di kalangan siswa sekolah menengah (AMS) Bandung, Syahrir menjadi seorang bintang. Syahrir bukanlah tipe siswa yang hanya menyibukkan diri pada buku-buku pelajaran dan pekerjaan rumah. Ia pun aktif dalam klub debat di sekolahnya.

Setamat AMS, Syahrir melanjutkan studi ke Fakultas Hukum, Universitas Amsterdam, Leiden, Belanda. Di sana, ia mendalami teori-teori sosialisme. Ia akrab dengan Salomon Tas, Ketua Klub Mahasiswa Sosial Demokrat, dan istrinya Maria Duchateau, yang kemudian dinikahi Syahrir.

Aksi sosial Syahrir kemudian menjurus menjadi politis. Ketika para pemuda masih terikat dalam perhimpunan-perhimpunan kedaerahan, pada 20 Februari 1927 Syahrir termasuk dalam sepuluh orang penggagas pendirian himpunan pemuda nasionalis, Jong Indonesie. Perhimpunan itu kemudian berubah nama jadi Pemuda Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia. Kongres monumental yang mencetuskan Sumpah Pemuda pada 1928.

Sejak muda Syahrir dikenal aktif dalam organisasi serta forum-forum politik. Terbukti kemudian, pada November 1945 Syahrir didukung pemuda dan ditunjuk Soekarno menjadi formatur dalam kabinet parlementer. Pada usia 36 tahun, mulailah lakon Syahrir dalam panggung memperjuangkan kedaulatan Republik Indonesia, sebagai Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri.

Banyak yang bilang ketika itu, RI Tanpa Syahrir maka Soekarno bisa terbakar dalam lautan api yang telah ia nyalakan. Sebaliknya, sulit dibantah bahwa tanpa Bung Karno, Syahrir tidak berdaya apa-apa.

Meski jatuh-bangun akibat berbagai tentangan di kalangan bangsa sendiri, Kabinet Syahrir I hingga III (1945 hingga 1947) konsisten memperjuangkan kedaulatan RI lewat jalur diplomasi. Syahrir tak ingin konyol menghadapi tentara sekutu yang dari segi persenjataan jelas jauh lebih canggih. Diplomasinya kemudian berbuah kemenangan sementara.

Syahrir sangat terkenal dalam menjalankan politik diplomasi terhadap Belanda, dimana sebagai suatu jalan untuk mencapai suatu penyelesaian secara damai atas sengketa Indonesia-Belanda.


Perjanjian Linggar Jati


Dinner Party atas susksesnya Perjanjian Linggar Jati
Sebagai hasil dari perjuangan diplomasi tersebut tercatat pada tanggal 25 Maret 1947 terjadi penandatanganan Perjanjian Linggarjati, yang mengakui Kemerdekaan de facto Republik Indonesia atas wilayah Jawa, Madura, Sumatra. Berdasarkan Perjanjian Linggarjati tersebut menyusul pengakuan de facto oleh Inggris, USA, Mesir. Dan setelah penandatanganan Perjanjian Linggarjati, dalam periode 1947 – 1948 didirikan Perwakilan-Perwakilan RI di Singapura, Penang, Bangkok, Delhi, Cairo, New York, Canberra.



PBB 1947
Tak hanya itu, kemudian Pada 14 Agustus 1947 ketika Syahrir berpidato di muka sidang Dewan Kemanan PBB. Berhadapan dengan para wakil bangsa-bangsa sedunia, Syahrir mengurai Indonesia sebagai sebuah bangsa yang berabad-abad berperadaban aksara lantas dieksploitasi oleh kaum kolonial. Kemudian, secara piawai Syahrir mematahkan satu per satu argumen yang sudah disampaikan wakil Belanda, Van Kleffens. Dengan itu, Indonesia berhasil merebut kedudukan sebagai sebuah bangsa yang memperjuangan kedaulatannya di gelanggang internasional. PBB pun turut campur, sehingga Belanda gagal mempertahankan upayanya untuk menjadikan pertikaian Indonesia-Belanda sebagai persoalan yang semata-mata urusan dalam negerinya.

Berbagai kalangan Belanda menilai kegagalan itu sebagai kekalahan Van Kleffens sebagai seorang diplomat ulung yang berpengalaman di gelanggang internasional dengan seorang diplomat muda dari negeri yang baru saja lahir. Van Kleffens pun ditarik dari posisi sebagai wakil Belanda di PBB.

Sejak tahun 1950 Syahrir tidak lagi memangku suatu jabatan negara. Meski jasanya besar, di akhir hidupnya Syahrir malah tidak mendapat perlakuan selayaknya pejuang. Hubungan Sutan Syahrir dan Presiden Soekarno memburuk karena Syahrir dianggap terlibat dalam menggulingkan Pemerintahan Presiden Soekarno.


Akhirnya Tahun 1962, pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) itu pun ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai 1965 hingga menderita stroke. Setelah itu Syahrir diijinkan untuk berobat ke Zürich Swiss, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat Wakil Ketua Partai Sosialis Indonesia (PSI) Sugondo Djojopuspito menghantarkan beliau di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo degan air mata, sampai akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966. Jenazahnya disemayamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.

Tak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa tanpa adanya Sutan Syahrir, sejarah bangsa Indonesia menjadi tidak lengkap.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: