bLoGGiNg 4 LeaRNiNg

— Sebaik-baik di antara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain —

Suku Toraja

Posted by treest on 8 March 2009

116

Ukiran Kayu Khas Toraja

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti “Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan”, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah “orang yang berdiam di sebelah barat”.

Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili’na Lapongan Bulan Tana Matari’allo arti harfiahnya adalah “Negri yang bulat seperti bulan dan matahari”. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja). Tempat upacara pemakaman adat “Rante” Rante yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit yang dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil.

Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor). adat-dan-upacara-perkawinan-suku-rejang Bagi suku Rejang perkawinan mempunyai beberapa tujuan.

Tujuan suatu perkawinan adalah :

  1. untuk mendapatkan teman hidup dan memperoleh keturunan, yang disebut Mesoa Kuat Temuun Juei;
  2. untuk memenuhi kebutuhan biologis, hal dimaksudkan agar kaum muda dapat terhindar dari perbuatan tercela;
  3. memperoleh status sosial ekonomi. Bagi suku Rejang bujang dan gadis belum merupakan orang kaya ( coa ade kayo ne) oleh karena itu mereka harus kawin, setelah kawin mereka akan bekerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memupuk kekayaan bagi keluarga mereka sendiri. Pengantin Rejang dari turunan bermani ix Suku Rejang juga memiliki suatu pandangan mengenai perkawinan yang diinginkan (ideal). Perkawinan seperti ini kebanyakan diukur dari kondisi calon pengantin, baik laki maupun perempuan. Perempuan yang baik untuk menjadi isteri apabila dia memenuhi berbagai persyaratan, yang pada dasarnya menunjukkan perilaku yang baik dan pandai mengatur rumah tangga.

Persyaratan-persyaratan tersebut antara lain adalah :

baik tutur katanya;

pandai mengatur halaman rumah dan bunga-bunga di pekarangan; pandai menyusun/mengatur kayu api (semulung putung);

bagus bumbung airnya (lesat beluak bioa);

dan mempunyai sifat pembersih

Sedangkan bagi kaum laki-laki, syarat-syarat yang harus dipenuhi menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu-pengetahuan dan berketerampilan.

Syarat-syarat bagi laki-laki tersebut antara lain adalah :

banyak ilmu batin dan pandai bersilat;

pandai menebas dan menebang kayu;

pandai membuat alat senjata dan alat-alat untuk bekerja.

Selain itu dalam adat suku Rejang juga diatur larangan untuk kawin bagi anggota suku tersebut. Secara adat, orang Rejang dilarang kawin dengan saudara dekat, sebaiknya perkawinan itu dilakukan dengan orang lain (mok tun luyen). Perkawinan dengan saudara dekat dianggap merupakan suatu perkawinan sumbang, yang mereka sebut Kimok (memalukan/menggelikan). Perkawinan dengan sesama famili disebut kawin Sepasuak dan perkawinan dengan saudara yang berasal dari moyang bersaudara (semining) disebut Mecuak Kulak.

Perkawinan Sepasuak dan Mecuak Kulak ini merupakan perkawinan yang dilarang, namun demikian apabila tidak dapat dihindarkan maka mereka yang kawin didenda secara adat berupa hewan peliharaan atau uang, denda seperti ini disebut Mecuak Kobon. Jenis perkawinan lainnya yang dilarang secara adat adalah perkawinan antara seorang pria atau wanita dengan bekas isteri atau suami dari saudaranya sendiri, apabila saudaranya tersebut masih hidup. Bentuk-bentuk perkawinan dalam adat suku Rejang berhubungan erat dengan peristiwa atau kejadian sebelum perkawinan tersebut dilaksanakan.

Bentuk-bentuk perkawinan tersebut adalah :

  1. Perkawinan biasa, yakni perkawinan antara pria dan wanita yang didahului dengan acara beasen (bermufakat) antara kedua belah pihak.
  2. Perkawinan sumbang, yakni perkawinan yang dianggap memalukan. Misalnya karena sang gadis telah berbuat hal-hal yang memalukan (komok) sehingga menimbulkan celaan dari masyarakat atau perkawinan yang dilakukan oleh sesama saudara dekat.
  3. Perkawinan ganti tikar (Mengebalau), yaitu perkawinan yang dilakukan oleh seorang laki yang isterinya telah meninggal dengan saudara perempuan isterinya, atau dengan perempuan yang berasal dari lingkungan keluarga isterinya yang telah meninggal tersebut. Upacara perkawinan dalam adat suku rejang mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu upacara sebelum perkawinan, upacara pelaksanaan perkawinan dan upacara setelah perkawinan.

Oleh sebab itu, perkawinan dalam suku Rejang terdiri dari :

Upacara sebelum perkawinan, yang terdiri dari :

  1. Meletak Uang, yaitu upacara pemberian uang atau barang emas yang dilakukan oleh kedua calon mempelai di rumah si gadis, dengan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak. Maksud upacara ini adalah memberi tanda ikatan bahwa bujang dan gadis tersebut sudah sepakat untuk menikah.
  2. Mengasen, yaitu meminang yang dilakukan di rumah keluarga si gadis.
  3. Jemejai atau Semakup Asen, yaitu upacara terakhir dalam peminangan yang merupakan pembulatan kemufakatan antara kedua belah pihak.

Tujuan upacara ini adalah untuk :

meresmikan atau mengumumkan kepada masyarakat bahwa bujang dan gadis tersebut telah bertunangan dan akan segera menikah; mengantar uang antaran (mas kawin), dan menyampaikan kepada Ketua Adat mengenai kedudukan kedua mempelai itu nantinya setelah menikah.

Upacara Pelaksanaan Perkawinan, terdiri dari :

Upacara pelaksanaan perkawinan pada suku Rejang pada umumnya terdiri dari dua macam upacara, yaitu Mengikeak dan kemudian diikuti dengan Uleak. Mengikeak adalah upacara akad nikah dan upacara Uleak adalah pesta keramaian perkawinan. Pelaksanaan Mengikeak biasanya dilaksanakan di tempat pihak yang mengadakan Uleak, namun demikian berdasarkan permufakatan bisa saja mengikeak dilaksanakan di rumah mempelai pria dan Uleak dilaksanakan di rumah mempelai wanita.

Dalam permufakatan adat hal seperti ini disebut : Mengikeak keme, uleak udi artinya menikah kami merayakannya kamu.

Upacara Sesudah Perkawinan, terdiri dari :

Pada zaman sekarang berbagai upacara sesudah pelaksanaan perkawinan tidak begitu diperhatikan lagi. Pada zaman dahulu setelah upacara perkawinan, dilakukan pula berbagai upacara yaitu :

  1. Mengembalikan alat-alat yang dipinjam dari anggota dan masyarakat dusun.
  2. Pengantin mandi-mandian, melambangkan mandi terakhir bagi kedua mempelai dalam statusnya sebagai bujang (jejaka) dan gadis.
  3. Doa selamat.
  4. Cemucu Bioa, yaitu berziarah ke makam-makam para leluhur.

Adat Menetap Sesudah Perkawinan

Apabila akad nikah dan upacara perkawinan telah dilakukan, maka kedua mempelai itu telah terikat oleh norma adat yang berlaku. Kebebasan bergaul seperti pada masa bujang dan gadis hilang, dan berganti ke dalam ikatan keluarga di mana mereka bertempat tinggal. Status tempat tinggal (Duduk Letok) mereka ditentukan oleh hasil permufakatan yang telah diputuskan dalam upacara Asen. Bagi suku bangsa Rejang ada dua macam Asen, yakni Asen Beleket dan Asen Semendo. Asen Beleket artinya mempelai perempuan masuk ke dalam keluarga pihak laki-laki, baik tempat tinggalnya maupun sistem kekerabatannya. Asen Beleket dibedakan lagi dalam dua macam Asen, yaitu Leket Putus dan Leket Coa Putus (tidak putus). Pada Leket Putus, hubungan mempelai perempuan dengan pihak keluarganya diputuskan sama sekali. mempelai perempuan tersebut sepenuhnya menjadi hak keluarga pihak laki-laki. Apabila suaminya meninggal terlebih dahulu, maka perempuan tersebut tetap tinggal di lingkungan keluarga suaminya.

Biasanya ia dinikahkan dengan saudara suaminya atau sanak saudara suaminya yang lain, tanpa membayar uang apa-apa dan ia tidak boleh menolak. Pada Leket Coa Putus hubungan mempelai perempuan dengan keluarganya tidak terputus sama sekali. Pada Asen Semendo terdapat banyak variasi.

Pada mulanya Asen Semendo merupakan lawan atau kebalikan dari Asen Beleket, yakni :

  1. Semendo Nyep Coa Binggur (hilang tidak terbatas), mempelai laki-laki masuk dan menjadi hak pihak keluarga perempuan sepenuhnya.
  2. Semendo Nyep/Tunakep (menangkap burung sedang terbang), mempelai laki-laki dianggap oleh keluarga pihak perempuan sebagai seorang yang datang tidak membawa apa-apa. Jika terjadi perceraian atau laki-laki tersebut meninggal terlebih dahulu maka semua hak warisnya jatuh kepada isterinya.
  3. Semendo Sementoro/Benggen (berbatas waktu), mempelai laki-laki pada awal kehidupan berkeluarga harus tinggal dalam lingkungan keluarga pihak mempelai perempuan, setelah itu dia bersama isterinya dapat tinggal dalam lingkungan keluarga asalnya atau membentuk lingkungan keluarganya sendiri.
  4. Semendo Rajo-Rajo, yaitu apabila kedua mempelai berasal dari dua keluarga yang sama kuat atau sederajat. Kedudukan dan tempat tinggal kedua mempelai setelah perkawinan diserahkan sepenuhnya kepada kedua mempelai untuk memutuskannya.

Tarian Tanah Toraja

Tarian Burake

Tarian ini berasal dari bagian Barat Tana Toraja yaitu Kecamatan Bonggakaradeng. Tarian ini merupakan tarian pemujaan kepada Puang Marua can Deata (Aluk Todolo). Ditarikan oleh gadis-gadis bangsawan dengan iringan musik yaitu suling lembang, musik gesek yaitu geso’-geso’, gendang tangan yang kecil yaitu Kamaru (Garapung) dan gendang besar yaitu Gandang Boro. Tarian ini diantar dengan sebuah lagu berjudul : Kamma’-kamma’ku To Lino (Lagu khusus pemujaan). Pakaian yang digunakan sangat spesifik yaitu Bayu Nene’ Barandilau, Basserarang, Dodo orang. Perhiasannya terdiri dari Sa’pi’ Ulu, Tida-tida, Ponto Kati, Sassang, Rara’ dan Orang-oran serta hiasan khas yaitu Kanuku Deata (kuku dewa-dewi). Untuk kaum lelaki menggunakan Seppa’ Todolo/Seppa’ Tallubuku, Bayu Pokko’ Muane, Sambu’, Talingka’ sapu’, La’bo Pinai, semuanya adalah bagian dari tradisional lelaki ditambah hiasan dari manik-manik.

Tarian Dau Bulan

Sama dengan tarian Burake, namun tarian ini adalah Tari kreasi baru yang diciptakan oleh keluarga Tonglo dan berasal dari Kecamatan Bonggakaradeng. Tarian ini dipergelarkan sebagai tarian pengucapan syukur kepada Puang Matua atas berkatnya terutama keberhasilan panen. Pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh para penari hampir sama dengan tarian Burake namun lebih sederhana. Alat musik pengiring dahulu kala digunakan lesung panjang namun pada saat sekarang ini telah diganti dengan gendang. Juga tarian ini memiliki lagu khusus yang dikenal dengan judul Dao Bulan Da’mu mallun len, yang berarti permohonan kepada sang Pencipta agar berkatNya senantiasa dilimpahkan pada umat manusia sama seperti terangnya bulan yang senantiasa bersinar.

Tarian Ma’badong

Penari membuat lingkaran yang saling mengkaitkan jari-jari kelingking. Penari bisa pria juga bisa wanita setengah baya atau tua. Biasanya mereka berpakaian serba hitam namun terkadang berpakaian bebas karena tarian ini terbuka untuk umum. Tarian ini hanya diadakan pada upacara kematian ini bergerak dengan gerakan langkah yang silih berganti sambil melantunkan lagu (Kadong Badong) yang syairnya berisikan riwayat manusia mulai dari lahir hingga mati dan do’a, agar arwah si mati diterima di negeri arwah (Puya) atau alam dialam baka. Tarian Badong ini biasanya berlangsung berjam-jam, sering juga berlangsung semalam suntuk. Perlu diketahui bahwa hanya pada upacara pemakaman yang lamanya tiga hari/malam ke atas yang boleh dilaksanakan tarian Badong ini atau khusus bagi kaum bangsawan.

Tarian Ma’dandan

Tarian ini berintikan pemujaan dan doa-doa yang disampaikan kepada Puang Matua dan Deata(dalam Aluk Todolo) pada syukuran panen atau pun tahbisan rumah adat. Ditarikan oleh sekelompok orang wanita. Pakaian dan perhiasannya serta peralatan yang digunakan cukup sederhana, yaitu pakaian / baju Toraja/Bayu Bussuksiku dan memakai hiasan kepala (sa’pi’) yang menyerupai segitiga bagian rumah di bawah atap (lindo para). Peralatan mereka adalah tongkat dan kaleng kecil yang diisi kerikil kecil sehingga berbunyi gemerincing apabila diketukkan pada tongkat. Mereka bergerak dengan lemah gemulai menggoyangkan tongkat dan diiringi irama nyanyian khusus untuk Ma’dandan.

Tarian Ma’katia

Tarian duka untuk menyambut keluarga dan kerabat yang menghadiri upacara pemakaman seorang bangsawan. Penari berpakaian adat Toraja secara seragam dengan memakai sa’pi’. Dengan gerak gemulai diiringi lantunan lagu duka untuk menyatakan bahwa mereka juga turut berbagi duka dan dapat menghibur keluarga yang berduka. Tarian dimainkan saat rombongan keluarga ataukerabat (totongkon), memasuki arena penerimaan tamu (lantang Karampoan).

Tarian Manganda’

Tarian ini dipentaskan oleh kaum pria yang mempergunakan tanduk kerbau dan hiasan uang-uang logam kuno (oang) sebagai hiasan kepala ditambah dengan kain mawa’ tua terjumbai ke belakang. Para penari menggunakan juga lonceng/bel kecil yang selalu dideringkan pada saat menari dan bunyinya sangat merdu dan ritmik. Gerakan tarinya sering dibarengi lengking teriakan yang mengejutkan penonton Tarian Manganda’ adalah tarian pemujaan yang dipentaskan pada upacara Merok atau Ma’Bua’.

Tarian Manimbong

Tarian Manimbong juga merupakan tarian pemujaan dan doa pada upacara syukuran. Perbedaannya ialah tarian ini hanya ditarikan oleh kaum pria. Pakaian, hiasan dan perlengkapan mereka terdiri dari pakaian khusus untuk pria yaitu Bayu Pokko’ dan Seppa Tallu Buku dan berselempangkan kain tua/antik yakni Mawa’ serta mengenakan hiasan kepala yang terbuat dari bulu burung bawan atau bulu ayam yang cantik. Perlengkapan mereka yaitu parang kuno (la’bo’ pinai) dan sejenis tameng bundar kecil yang bermotif ukiran Toraja. Gerakan mereka juga diiringi dengan syair lagu khusus. Tarian Manimbong sering dikombinasikan dengan Tarian Ma’dandan dengan gerakan yang diiringi oleh irama yang sama, walaupun tempat penari pria dan wanita saling bertukaran tempat ke depan dan ke belakang, berdiri dan berlutut, dengan diiringi sentakan gerakan-gerakan kaki.

Tarian Memanna

Tarian ini khusus ditarikan pada upacara penguburan orang mati karena terbunuh. Penarinya terdiri dari lelaki yang menyeramkan dengan pakain compang-camping dari tikar robek, ikat kepala dari rumput padang-padang, senjatanya dibuat dari bambu, perisainya terbuat dari pelepah pinang atau kulit batang pisang. Tarian ini sangat jarang ditemukan karena jarang terjadi pembunuhan. Dengan syair-syair penari yang sedih dan menakutkan bergerak mundur majus ambil mengutuk si pembunuh yang kejam.

Tarian Pa’Bondesan

Pa’bondesan merupakan tarian pemujaan di mana penarinya kaum lelaki. Para penari bertelanjang dada dan hanya mengenakan semacam selendang yang diselempangkan dari bahu ke pinggang secara diagonal. Mereka juga mengenakan kuku palsu yang disebut kuku setan kanuku bombo, dan hiasan kepala yang khas seperti bando dihiasi dengan bambu kesil penuh guntingan-guntingan kertas disebut Pangarru’. Gerakan dalam tarian ini, senantiasa berputar di tempatnya mengikuti irama suling yang ditiup oleh empat orang pemain suling (tidak ikut menari). Alunan suling tersebut sangat menarik dan menyentuh perasaan.

Tarian Pa’ Gellu’

Gellu’ Pangala’ adalah salah satu tarian tradisional dari Tana Toraja yang dipentaskan pada acara pesta “Rambu Tuka” juga tarian ini ditampilkan untuk menyambut para patriot atau pahlawan yang kembali dari medan perang dengan membawa kemenangan. Tetapi tarian ini tabu atau pamali dipentaskan pada acara “Rambu Solo”.

Tarian Pa’pangngan

Tarian ini dipentaskan oleh gadis-gadis cantik berpakaian Toraja secara lengkap yang warnanya agak hitam atau agak kegelapan. Gerakan mereka diiringi oleh alunan bunyi suling lembang dan alunan lagu duka (pa’marakka’). Gerakan penari merupakan ucapan selamat datang dan penyuguhan sekapur sirih (Pangngan) dan diakhiri dengan ucapan terima kasih dan pernyataan pamit.

Tarian Pa’randing

Tarian ini khusus untuk menghormati para pahlawan perang yang akan pergi berperang atau baru tiba dari medan perang. Penarinya terdiri dari 2 atau 3 bahkan lebih dan hanya ditarikan oleh laki-laki dan biasanya berasal dari rumpun keluarga yang sama.

Perlengkapan dan hiasan yang dikenakan adalah :

• Balulang: yaitu perisai yang dibuat dari kulit kerbau yang sudah diawetkan dan sangat kuat.

• Doke, Tombak, La’bo’ Todolo (Parang antik), Tanduk: tiruan tanduk kerbau yang terbuat dari kuningan,

• Tora: taring binatang buas yang pernah dibunuh oleh leluhur penari,

• Usuk Tau: tulang rusuk manusia yang dipakai sebagai kalung.

• Pempaya’: rambut binatang liar yang melambangkan sebagai pemburu yang berani.

• Pangngarru’: tongkat yang terbuat dari tangkai enau sebagai kompas Makanan Khas Toraja -Onde-Onde -Pisang epe -Top Palada -Bakso Nyonyang -Pallu Mara

One Response to “Suku Toraja”

  1. omeng said

    Wah ingat toraja waktu masih SMU dulu, sy sering jalan2 dgn teman naik motor ramai2 dari Palopo hampir setiap sabtu shabis skul..🙂

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: